Sejak SBY terpilih kembali sebagi Presiden RI untuk masa jabatan kedua, sebuah sinetron bertajuk “SBY Commotion” bermunculan di hampir seluruh saluran TV di Indonesia.
Bagi penduduk Indonesia yang gemar nonton TV di pagi hari, pastinya mengikuti benar sinetron ini. Hampir seluruh TV menayangkannya, mungkin hanya bahasa dan tatanan set yang berbeda …tapi, inti tetep sama.
Sinetron ini cukup menarik pada awalnya, penonton bersemangat untuk mengetahui ‘noda-noda SBY’. So, sekarang noda-noda itu sudah terkuak, meskipun pihak yang bernoda tetap menyangkal. Plot dalam sinetron yang pada awalnya menarik menjadi membosankan akhir-akhir ini. Penonton pun mulai tidak peduli dengan seberapa nyata plot yang ditampilkan, mengenai kebenarannya. Bahkan, beberapa sudah mulai meninggalkan sinetron ini.
Secara pribadi, saya bukan pendukung SBY. Tapi, masih banyak hal nyata yang harus direalisasikan daripada sekedar membiayai sinetron yang mahal ini.
So, mungkin pemeran utama dalam sinetron ini bukan lah yang ideal, tapi jika pemeran utama ini diganti, apakah ada jaminan bahwa pengganti akan lebih baik?
Satu hal yang saya amati, sepertinya banyak dari pemeran dan penonton lupa bahwa untuk mencapai kesuksesan butuh proses dan waktu. Mungkin saya juga termasuk salah satu pengikut “instant result”, tapi saya juga percaya pada proses.
Jadi, hentikanlah produksi sinetron politik itu dan mulailah merencanakan strategi untuk kesejahteraan 250 juta rakyat Indonesia, bukan hanya 1% dari populasi, dan mengimplementasikannya.